Yeti, Monster Salju dari Pegunungan Himalaya

Kisah makhluk misterius, harta karun, berbagai manuskrip rahasia, jebakan-jebakan misterius selalu mengundang keingintahuan orang, dan salah satu dari misteri yang hingga sekarang masih membingungkan orang banyak adalah misteri Yeti Sang Manusia Salju dari Himalaya.  Yeti sangat terkenal hingga menginspirasi berbagai film seperti Scooby Doo, Tintin, Doctor Who, dan lain sebagainya.

Menurut pendapat yang paling umum, Yeti berbentuk seperti monster kera besar berbulu dengan gigi tajam. Bulunya disebutkan berwarna campuran antara abu-abu dan putih. Monster ini sering dilaporkan menjelajahi pegunungan Himalaya sendirian di tengah-tengah badai salju. Tapi apakah Yeti benar-benar ada?

image

Cerita Rakyat dan Jari Yeti

Yeti berasal dari legenda rakyat di wilayah suku Sherpa, Nepal Timur. Suku Sherpa menggambarkan Yeti sebagai semacam kera berbahaya yang terkadang menyerang penduduk. Ada 1 buku yang menjelaskan hubungan antara Yeti dengan masyarakat Sherpa, yaitu “Folk Tales of Sherpa and Yeti”. Yeti sering dijadikan sumber ketakutan bagi anak-anak untuk tidak berkeliaran sendirian di alam bebas. Bagaimanapun legenda Yeti menjadi semakin popular seiring dengan kedatangan orang-orang Barat ke pegunungan Himalaya, yang pertama adalah Charles Howard-Bury, seorang politikus Inggris yang memimpin ekspedisi sekelompok orang Inggris ke Puncak Everest. Dia melihat jejak kaki besar di suatu ceruk gunung dan dia diberitahu oleh seorang pemandu local bahwa itu adalah jejak dari “metoh-kangmi” atau “manusia salju beruang jantan” dalam bahasa setempat.

Howard-Bury menceritakan kisahnya pada seorang wartawan Inggris bernama Henry Newman dan ternyata Newman menerjemahkan “metoh” menjadi “mengerikan” sehingga memunculkan legenda manusia salju mengerikan di kalangan orang-orang Barat. Tahun 1950-an, keingintahuan public menjadi semakin tinggi sehingga banyak penjelajah Barat berusaha mencari Yeti. Bahkan seorang bintang film, James Stewart menyimpan apa yang disebutnya “jari Yeti”. Sayangnya pada tahun 2011, tes DNA membuktikan bahwa jari itu adalah jari manusia biasa.

Tengkorak dan tulang-tulang Yeti

Beberapa orang mengklaim menemukan tengkorak, tulang-tulang, dan rambut Yeti namun setelah menjalani uji DNA, terbukti bahwa mereka hanya memiliki tulang dan rambut beruang atau kera.

Reinhold Messner

Reinhold Messner adalah seorang pemburu Yeti dan dia adalah yang paling terkenal karena dia mengklaim bahwa dia melihat satu ekor Yeti di pegunungan Himalaya pada pertengahan 1980-an. Apa yang menarik adalah Messner mengklaim bahwa Yeti sebenarnya adalah beruang. Dia menuduh Howard-Bury dan Newman mengada-ada dan memanfaatkan legenda rakyat Sherpa.

Hasil tidak terduga pada 2014

Pandangan Messner mendapat dukungan dari seorang pakar genetika Inggris bernama Bryan Sykes yang sebelumnya mengajar di Universitas Oxford. Prof. Sykes meneliti beberapa sampel dari rambut primata yang diduga berasal dari Yeti, beberapa diantaranya berasal dari Messner. Dia menemukan bahwa sampel-sampel itu sangat mirip dengan sejenis beruang salju yang diketahui terakhir hidup pada 40 ribu tahun lalu. Sekilas uji DNA ini langsung mematahkan mitos Yeti namun beberapa ilmuwan lain memutuskan untuk melakukan pengujian pada sampel-sampel yang sama. Beberapa dari mereka adalah Ross Barnett dari Universitas Copenhagen Denmark yang bekerjasama dengan Ceiridwen Edwards dari Universitas Oxford. Mereka menemukan bahwa sampel-sampel tersebut tidak cocok dengan DNA beruang salju purba seperti yang diklaim Prof. Sykes. Prof. Sykes akhirnya mengakui kesalahannya dan kini misteri Yeti terus berlanjut.

Kesimpulan

Dari berbagai penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan menjadi tiga poin penting. Pertama Yeti tidak lebih dari mitos belaka. Kedua, Yeti sebenarnya adalah spesies beruang endemic Himalaya. Ketiga, Yeti memang benar-benar primata raksasa karena bagaimana mungkin para saksi mata baik dari suku Sherpa maupun para penjelajah Barat tidak bisa membedakan antara beruang dan primata? Jika suatu saat misteri Yeti terpecahkan maka hal ini akan menjadi hadiah besar bagi ilmu pengetahuan.

Credit: Unsolved Mysteries, BBC

Leave a Reply