Tiwanaku dan Pumapunku, misteri arsitektur kuno di Dataran Altiplano yang sunyi

Tahukah kamu tentang peradaban Indian kuno yang megah di Amerika Tengah dan Amerika Selatan? Jika kamu pernah membaca tentang berbagai peradaban tersebut, kamu mungkin teringat pada Inca yang sangat populer. Atau kamu mungkin teringat pada film terkenal karya Mel Gibson, Apocalypto? Film itu mengisahkan tentang perjuangan Jaguar Paw menyelamatkan rekan-rekan sedesanya dan juga anak istrinya dari serangan satu suku lain yang ternyata mereka adalah suku pemburu yang ditugaskan oleh sebuah peradaban Indian kuno yang cukup megah, peradaban Maya. Peradaban megah ini dikenal suka mengorbankan manusia untuk menjaga agar matahari tetap bersinar. Sebagai informasi, mereka dikenal sangat takut terhadap gerhana matahari.

Apa yang akan kita bahas di artikel misteri kali ini adalah Tiwanaku dan Pumapunku. Tiwanaku adalah ibukota dari sebuah kerajaan Indian kuno di Amerika Selatan. Sebuah ibukota tentunya memiliki bangunan dan sebagian besar peradaban kuno masih memiliki “bekas-bekas” yang tentunya dapat diselidiki di kemudian hari. Begitu juga dengan Tiwanaku. Setelah terkubur hampir 1 millenia atau 1000 tahun, ibukota kuno ini ditemukan kembali pada tahun 1549. Sebagai informasi, kerajaan kuno ini berdiri jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa yang dipelopori oleh Columbus. Lokasi ditemukan Tiwanaku adalah Altiplano di dalam wilayah negara Bolivia sekarang. Di dalam komplek ibukota kuno ini terdapat apa yang dinamakan Pumapunku, sebuah struktur bebatuan kuno yang diduga kuat digunakan untuk ritual keagamaan. Kebanyakan batuan yang digunakan untuk membangun Pumapunku memiliki berat tidak kurang dari 100 ton! Sungguh menakjubkan bukan?


Apa yang menjadi misteri?

Sekilas dari deskripsi di atas, kamu mungkin tidak menemukan apa yang dapat menjadi misteri dari Tiwanaku dan Pumapunku. Kamu mungkin berpikir bahwa kedua nama itu adalah struktur bangunan kuno biasa. Namun pada kenyataannya, Tiwanaku mengandung beberapa teknologi pembangunan yang khas dan fantastis pada masanya. Sebagai informasi, komplek istana kuno ini terletak di padang rumput Titicaca di Lembah Tiwanaku. Dilengkapi oleh kuil, piramida, pemukiman, dan berbagai infrastruktur lainnya yang sekilas menyerupai sebuah komplek modern, Tiwanaku jelas menimbulkan sebuah pertanyaan besar tentang siapakah yang sebenarnya membangun komplek ini. Jika ditinjau dari teknologi orang-orang Indian Amerika Selatan pada waktu itu, rasanya mustahil mereka dapat membangun Tiwanaku dan Pumapunku.

Komplek Kuil Kalasasaya

Dataran di mana Tiwanaku berlokasi merupakan dataran tinggi yang memiliki suhu dingin sehingga beberapa tanaman utama seperti jagung, kapas, dan berbagai buah-buahan tidak dapat tumbuh. Bagaimana populasi kuno dapat membangun struktur bangunan raksasa dengan banyak sekali batuan yang masing-masing berbobot 100 ton? Dan siapakah penduduk asli dari Tiwanaku? Mengapa mereka seakan-akan tiba-tiba menghilang tanpa bekas?

Awal mula

Kemungkinan besar struktur bangunan kuno ini dimulai pada tahun 1500 SM dan terus tumbuh. Beberapa penelitian terbaru semuanya sepakat bahwa populasi Tiwanaku agaknya mulai tumbuh dari pantai Pasifik terus ke pedalaman. Dan ketika tahun 700-an atau abad ke-8 Masehi, populasi Tiwanaku telah menjadi kekuatan dominan di Amerika Selatan dengan puluhan koloni sebagai bawahannya.

Teori populer

Ada sebuah teori populer tentang bagaimana penduduk Tiwanaku purba membangun struktur istana raksasa ini. Idenya adalah bahwa mereka menetap di salah satu daerah koloni dimana tanaman-tanaman produksi dapat tumbuh. Mereka tidak menetap secara lama di Altiplano dan hanya tinggal di sana untuk mengawasi pekerjaan konstruksi. Mereka mungkin juga mencoba untuk mengubah daerah padang rumput-rawa di sekitar Altiplano untuk menjadi daerah pertanian produktif.

Piramida Akapana

Dalam komplek Tiwanaku terdapat sebuah piramida besar setinggi 59 kaki yang disebut Akapana. Ini adalah bangunan terbesar dalam komplek Tiwanaku. Para arkeolog sependapat bahwa siapapun yang membangun komplek ini, memiliki pengetahuan konstruksi yang tertinggi di masanya. Anehnya, tidak ada satupun catatan tertulis yang biasanya ditinggalkan oleh peradaban maju. Semua hilang tenggelam dalam bayang-bayang misteri.

Pumapunku

Terletak di selatan Akapana, Pumapunku selalu menyedot perhatian bagi siapapun yang memandangnya. Seperti telah dijelaskan di atas, Pumapunku nampaknya digunakan untuk ritual keagamaan dan para arkeolog menduga bahwa bebatuan raksasa yang digunakan untuk membangun Pumapunku diambil dari tambang batu dan yang jadi pertanyaan adalah bagaimana para penduduk kuno mengangkut bebatuan raksasa sejauh berkilo-kilometer tanpa kendaraan bermotor. Apakah dengan kuda? Jika kita sekilas membayangkan, rasanya tidak mungkin bebatuan seberat 100 ton ditarik dengan kuda walau kuda yang digunakan berjumlah puluhan. Dari berbagai catatan sejarah kita juga tahu bahwa kuda diperkenalkan di benua Amerika oleh orang-orang Eropa sementara Tiwanaku dan Pumapunku dibangun jauh-jauh hari sebelum kedatangan mereka.

Pumapunku juga dibangun dengan potongan-potongan batu yang kesemuanya dipotong dengan presisi tinggi, seakurat apa yang bisa dikerjakan oleh mesin pemotong modern! Bagaimana mungkin penduduk pribumi Indian kuno dapat melakukan itu semua? Sebagai informasi, setiap batu dipotong dengan akurat dan halus kemudian disusun-susun dengan pencocokan sudut. Kamu dapat membayangkan bagaimana permainan puzzle dipasang. Nah, begitulah kira-kira penyusunan Pumapunku dan bangunan-bangunan lainnya di dalam komplek Tiwanaku. Masalahnya adalah “potongan-potongan puzzle” kecil yang digunakan semuanya terbuat dari batu gunung yang sangat keras! Apakah mereka menggunakan peralatan dari baja berkualitas tinggi? Terus bagaimana mereka dapat menggunakan apa yang nampaknya sebagai teknologi konstruksi flush joints atau penggabungan obyek dengan obyek lain berdasarkan sudut-sudut yang presisi? Dewasa ini teknologi flush joints hanya dapat dilakukan dengan bantuan komputer karena membutuhkan pencocokan geometrik mikro.

Sejarah juga menunjukkan bahwa pedang logam juga diperkenalkan orang-orang kulit putih dari Spanyol pada abad pertengahan, beratus-ratus tahun setelah struktur kuno ini berdiri. Apakah ada campur tangan suatu peradaban maju asing? Apakah alien dari luar angkasa benar-benar pernah datang ke Altiplano dan membangun bagi penduduk lokal, sebuah komplek istana yang dilengkapi kuil-kuil megah? Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.

Credit: Amusing Planet, Ancient Alien, Unesco

Leave a Reply