Misteri The Beast of Gevaudan

Pada pertengahan 1700an di Prancis, tepatnya di wilayah Gevaudan, terjadi kurang lebih ratusan kasus serangan misterius. Disebut misterius karena tidak diketahui siapa penyebabnya, namun rangkaian serangan misterius ini telah menyebabkan tidak kurang dari 100 orang meninggal dunia. Hingga sekarang, penyebab rangkaian serangan itu belum bisa dipastikan.

Seorang pria Prancis bernama Dr. Beaufort pernah meneliti misteri rangkaian serangan ini dan dia mencatat total 210 serangan. Sungguh benar-benar jumlah yang fantastis. Dari 210 serangan itu jumlah korban tewas adalah 113 orang, berarti setiap dua serangan menghasilkan satu kematian. Mayoritas dari korban tewas ditemukan dalam keadaan termutilasi.

Awal Mula

Pada tanggal 1 Juni 1764, seorang remaja perempuan Prancis pergi menggembalakan ternaknya di padang rumput Gevaudan. Ketika sedang menjaga kawanan ternak, dia melihat gemerisik di semak-semak dekatnya. Dia melihat sesosok makhluk besar keluar dari semak-semak. Makhluk ini menyerupai serigala atau anjing namun dengan ukuran tubuh sebesar sapi jantan dewasa.

Makhluk menyeramkan itu menyerangnya dan untungnya, anak perempuan ini masih dilindungi oleh anjing-anjing gembalanya. Mereka (anjing-anjing gembala) menyerang sang monster hingga dia mengundurkan diri dan berlari ke kejauhan.

Sejak serangan di padang rumput itu, serangan demi serangan terus terjadi dan di akhir bulan yang sama, monster itu telah menyebabkan korban jiwa pertamanya. Seorang remaja bernama perempuan bernama Jeanne Boulet ditemukan tewas dengan jantung tercabik-cabik!

Rangkaian serangan itu menimbulkan kehebohan di seluruh Prancis hingga harian terkenal Paris Gazzete merilis berita berbagai kesaksian tentang monster raksasa itu. Sebagian saksi mengatakan bahwa makhluk ini menyerupai serigala raksasa berwarna kemerahan dengan gigi-gigi tajam mirip anjing Greyhound. Ciri lainnya adalah bau busuk yang mengiringi kedatangan makhluk itu. Deskripsi ini tidak mirip dengan jenis serigala apapun yang dikenal masyarakat Prancis pada saat itu.

Kelanjutan Serangan

Tiga bulan setelah serangan pertama atau bulan September 1764, monster serigala itu menggila. Dia membunuh hingga satu orang setiap minggunya. Setiap korban tewas dengan kondisi leher dan organ-organ dalam tercabik. Bahkan sebagian korban ditemukan termutilasi. Serangan ini terus terjadi dan puncaknya pada Oktober 1764, ditemukan puluhan korban tewas di berbagai desa di bagian selatan Prancis, kebanyakan wanita dan anak-anak. Monster ini menimbulkan ketakutan massal di seantero Prancis. Banyak orang menjadi takut berkeliaran di desa mereka masing-masing, mereka memilih untuk mengunci pintu rumah dan jendela mereka begitu petang tiba.

Werewolf

Banyak rumor menyebutkan bahwa monster serigala ini adalah serigala jadi-jadian atau werewolf dalam bahasa Inggris dan Loup Garou dalam bahasa Prancis. Rumor manusia serigala ini menyebabkan kengerian dan membuat banyak orang menyiapkan peluru dan senjata khusus yang dipercaya dapat membunuh siluman.

Tindakan Raja Prancis, Louis XV
Pada Januari 1765, sekelompok laki-laki dipimpin oleh Jacques Portefaix berhasil menghalau monster serigala ini dan tindakan heroism mereka menarik perhatian raja Prancis saat itu, Louis XV, hingga membuatnya menghadiahi Portefaix sebesar 300 livre dan 300 livre lainnya untuk para anak buahnya.

Ketertarikan raja membuatnya mengirim Jean Charles Marc Antoine d’Enneval, seorang pemburu profesional untuk memburu dan membunuh monster Gevaudan. Antoine d’Enneval mengajak putranya dan selain kedua orang itu, terdapat kurang lebih 2.000 orang lain yang turut memburu monster itu.
Antoine d’Enneval dan putranya menargetkan serigala-serigala liar dengan anggapan bahwa monster itu adalah salah satu dari mereka (kawanan serigala). Pada tanggal 21 September 1765, mereka berhasil membunuh seekor serigala dengan panjang 1,7 meter dan tinggi 80 cm. Mereka menjuluki serigala itu dengan le Loup de Chazes. Jelas ukuran itu bukanlah ukuran serigala normal, dan mereka dielu-elukan oleh banyak penduduk ketika mereka membawa bangkai serigala tersebut ke Istana Versailles. Mereka dan raja serta para penduduk Prancis mengira teror monster Gevaudan telah berhenti namun mereka salah karena dua bulan kemudian, terjadi serangan pada dua orang anak di daerah La Besseyre Saint Mary. Masyarakat menjadi khawatir tetapi untungnya pada tahun 1767 serangan ini nampaknya berhenti untuk selamanya.

Hipotesis

Chastel

Para ahli sejarah memiliki berbagai teori berbeda tentang peristiwa The Beast of Gevaudan namun pendapat paling terkenal adalah monster Gevaudan dibunuh oleh seorang pria bernama Jean Chastel pada pertengahan 1967, tepatnya 19 Juni 1967. Menurut cerita, Chastel di tengah-tengah keputusasaannya dalam memburu monster Gevaudan mengeluarkan alkitabnya dan berdoa. Sebentar saja berdoa, monster Gevaudan tiba-tiba muncul dan dia langsung membunuhnya dengan senapan.

Pendapat lain yang berkaitan menyebutkan bahwa Chastel menggunakan peluru perak untuk membunuh sang monster. Bahkan ada pendapat lain lagi yang menyebutkan bahwa Chastel adalah versi manusia dari monster Gevaudan. Perlu dicatat bahwa anggapan bahwa monster Gevaudan adalah serigala jadi-jadian karena dia kebal peluru dan tusukan senjata tajam.

Richard H Thompson

Richard H Thompson, penulis “Wolf hunting in France in the reign of Louis XV: The beast of Gevaudan”, berpendapat bahwa monster Gevaudan serigala biasa namun berukuran jauh di atas normal. Bagaimanapun teori yang dikemukakan Thompson tidak dapat menjelaskan mengapa bentuk fisik Gevaudan tidak 100% mirip dengan serigala Eropa pada umumnya.

Persilangan Antara Serigala dengan Anjing

Naturalis bernama Michel Louis dalam bukunya “The Beast of Gevaudan: The Innocence of Wolves”, menyebutkan bahwa monster Gevaudan adalah persilangan antara serigala liar dan anjing dan dia percaya bahwa teorinya dapat menjelaskan warna merah yang dimiliki monster Gevaudan.

Teori History Channel

Pada Oktober 2009, dalam salah satu edisinya, History Channel menyebutkan bahwa monster Gevaudan adalah sejenis Hyena Asia yang dulu sempat berkeliaran di Eropa. Namun pendapat ini mudah dipatahkan karena seluruh hasil otopsi pada korban-korban monster Gevaudan menunjukkan bahwa monster itu memiliki 42 gigi dan bukannya hanya 34 gigi yang dimiliki oleh Hyena Asia.

Hmmm nampaknya misteri The Beast of Gevaudan belum benar-benar terpecahkan hingga saat ini. Mungkin di masa depan misteri ini dapat terpecahkan, namun setidaknya hingga saat ini monster Gevaudan tetap menjadi misteri yang hilang di kegelapan Eropa kuno.

Credit: New Animal, History Today

Leave a Reply