Misteri Suku-suku Kerdil di Indonesia

Baru-baru ini sebuah video YouTube tentang penampakan sesosok diduga manusia kerdil di belantara
Aceh menjadi viral dan menghebohkan netizen Indonesia dan juga netizen mancanegara. Video itu
pertama kali diunggah oleh akun Fredography dan hingga saat ini mendapatkan lebih dari 8 juta viewer
atau pemirsa. Saya yakin kamu sudah melihat video ini (walaupun begitu saya tetap akan menampilkan
video tersebut di artikel ini), tapi saya akan mencoba membahas secara lebih detail tentang apa itu Suku
Mante (suku yang diduga terkait dengan penampakan sang manusia kerdil) dan juga berbagai suku
kerdil primitif yang tersebar berbagai daerah di Indonesia. Sebagian dari mereka telah terkonfirmasi
secara ilmiah dan sebagian lainnya masih diselimuti oleh misteri. Sebenarnya paling tidak terdapat lima
suku kerdil terkenal di Indonesia tapi dalam artikel ini saya akan bahas tiga dari mereka, yaitu Suku
Mante, Ebu Gogo, dan Orang Pendek. Yuk langsung saja kita bahas satu-persatu mulai dari Suku Mante.

Suku Mante

Nama Mante dinisbatkan kepada sekelompok entitas pedalaman yang berdiam di tengah-tengah
belantara Aceh. Entitas ini telah lama dianggap sebagai salah satu dari beberapa suku tertua yang
mendiami tanah Aceh. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa Suku Mante bersama suku-suku
lain seperti Semang, Senoi, Sakai, Jakun, dan lain-lain, adalah pembentuk etnis Aceh yang eksis sampai
saat ini. Mereka digolongkan sebagai rumpun Proto-Melayu atau biasa disebut Melayu Tua yang datang
ke kepulauan Nusantara dari daratan Asia Tenggara (diduga Cina Selatan hingga daerah Thailand
sekarang). Suku Mante bahkan dikaitkan dengan Suku Batak yang hingga saat ini masih dominan di
Provinsi Sumatera Utara.

image1

Screenshot dari video Suku Mante yang diunggah oleh akun Fredography di YouTube

Bedanya adalah keberadaan Suku Mante belum dapat dibuktikan secara ilmiah selain dari berbagai
cerita dan hikayat kuno di Aceh. Sejauh ini jika kamu mencari dari berbagai sumber di Internet, kamu
akan menemukan bahwa suku ini dianggap tinggal di pedalaman Aceh Timur, seperti Lokop,dan juga
pedalaman Aceh Tengah dan Aceh Tenggara seperti di hutan-hutan dan gua-gua Rikit Gaib, Oneng, dan
Pintu Rimba. Suku ini pernah menghebohkan pemberitaan nasional ketika pada tahun 1987, sebuah
artikel di koran Kompas membahas tentang penampakan suku ini. Artikel bertajuk “Ditemukan Lagi,
Suku Mante di Daerah Pedalaman Aceh” itu menceritakan tentang kesaksian Gusnar Effendy, seorang
pawang hutan setempat, yang menemukan suku primitif itu di pedalaman Lokop, Aceh Timur. Orang
yang sama juga mengaku pernah menemukan suku tersebut di daerah-daerah pedalaman Aceh yang
lain. Menurutnya, orang Mante bercirikan fisik pendek (tidak lebih dari 1 meter tingginya), berambut
panjang hingga sepantat, tubuh berotot, dahi sempit (mirip simpanse), dan kedua alis bertemu.



Bagaimanapun banyak sekali kesaksian tentang suku terasing ini, misalnya dari seorang mantan
kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang mengaku pernah menemukan jasad seorang perempuan
Suku Mante, dan tidak semua kesaksian menceritakan hal yang sama. Tapi dari berbagai kesaksian
tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Suku Mante memiliki tubuh yang sangat pendek,
bertenaga kuat, dan mampu berlari sangat cepat ketika bertemu manusia. Ada sebuah cerita kuno Aceh
yang menyebutkan bahwa pada jaman dahulu (tahun 1700-an), sepasang orang Mante tertangkap dan
dibawa oleh warga ke hadapan Sultan Aceh. Sesampai di istana mereka segera diberi makan dan minum
namun mereka tidak mau menyentuh apa saja yang dihidangkan sehingga mereka mati beberapa hari
kemudian. Sayangnya pada waktu itu belum ditemukan kamera sehingga kita tidak memiliki bukti
fotografi dari Suku Mante.

Ebu Gogo

Ebu Gogo adalah nama yang dinisbatkan pada sekelompok entitas kerdil di Flores Barat, Nusa Tenggara
Timur. Ebu berarti “nenek” dan Gogo berarti pemakan segala. Nampaknya nama ini diberikan karena
Ebu Gogo terkenal sangat rakus. Entitas ini dipercaya pernah tinggal di sebuah gua yang bernama Liang
Bua. Suku Ebu Gogo digambarkan bertubuh pendek dengan badan diselimuti bulu-bulu tebal. Sama
seperti Suku Mante, beberapa video YouTube tentang Ebu Gogo pernah menghebohkan jagad dunia
maya. Ebu Gogo digambarkan sebagai manusia kerdil dan biasa dijuluki sebagai hobbitnya Indonesia.
Menurut cerita dari penduduk lokal, Ebu Gogo memiliki perut buncit, dapat berlari sangat cepat (sama
seperti Suku Mante), berbulu tebal di wajahnya, dan pemarah. Jika ditinjau dari kesaksian dan cerita-
cerita tua penduduk lokal Flores, Ebu Gogo nampaknya lebih berbahaya daripada Suku Mante karena
makhluk ini lebih berani dan jika memiliki kesempatan kerap kali menculik bayi manusia untuk dimakan.
Makhluk ini dianggap hama sehingga selalu diburu penduduk lokal Flores di masa lalu walau sebagian
besar penduduk lokal menganggap entitas ini adalah nenek moyang mereka. Ebu Gogo juga memiliki
bukti-bukti lebih kuat dari Suku Mante karena fosil-fosil mereka telah diketemukan dan memang tulang-
tulang tua itu berukuran sangat kecil dan tidak mungkin tulang-tulang dari manusia normal. Bahkan Ebu
Gogo telah diakui secara ilmiah dan diberi nama ilmiah “Homo Floresiensis”.

image2

Ilustrasi seorang Ebu Gogo yang berhadapan dengan seekor komodo

Orang Pendek

Orang Pendek adalah sebutan bagi entitas kerdil yang diduga hidup di pedalaman Kerinci, Jambi.
Makhluk ini telah diceritakan sejak ratusan tahun lalu, dari generasi ke generasi. Taman Nasional Kerinci
Seblat adalah lokasi tradisional Orang Pendek. Banyak ahli cryptozoologi berpendapat bahwa makhluk
kerdil ini tidak dapat digolongkan dengan kelompok-kelompok suku pedalaman Sumatra seperti Orang
Kubu, Orang Bonai, Orang Akit, dan lain lain yang mereka semuanya dianggap sebagai puak-puak
Melayu Tua yang datang ke Sumatra dari Benua Asia ribuan tahun lalu.

image3

Gambar di atas adalah foto kerangka dan kulit dari seorang anak Orang Pendek di Riau yang ditembak pada tahun 1932

Nampaknya Orang Pendek tidak hanya ditemukan di pedalaman Jambi saja karena orang-orang
Minangkabau di Sumatra Baratpun juga mengenal sebuah entitas kerdil yang mereka juluki sebagai
Bigau. Mengenai fosil dari Orang Pendek atau Bigau, pada tahun 1932 di Pasirpangarayan, Riau, sebuah
kerangka dari seorang anak Orang Pendek (ditembak oleh pemburu) hanya memiliki tinggi 42 cm.
Beberapa literatur maupun berita-berita pada jaman pra kemerdekaan menceritakan entitas kerdil
bernama Letjo Itoe (ejaan lama) yang digambarkan setengah manusia ditembak di kawasan hulu Sungai
Rokan, Riau. Salah satu kutipan berita jaman pra kemerdekaan itu berbunyi sebagai berikut:


“Letjo itoe sebangsa machloek jang sangat hampir kepada manoesia, boléh dikatakan setengah
manoesia. [T]elah lama petjah schabar dionderafdeeling Rokan, orang diatjoe-atjoekan mentjari
binatang itoe. Barang siapa mendapat, konon dapat hadiah dari perserikatan orang-orang ber’ilmoe
dinegeri België. Pada hari Djoemaa’at tanggal 27 Mei 1932 Zelfsbetuurder dari Landschap Rokan IV kota,
memberi chabar kepada toean Gezaghebber di Pasirpangaraijan, bahasa ditengah hoetan dalam loehak
Rokan IV kota, seorang pemboeroe telah beroentoeng dapat menémbak seékor “létjo”. Létjo itoe
tengah memangkoe anaknja, tetapi peloeroe itoe hanja dapat memboenoeh anak létjo itoe sahadja,
laloe mati pada ketika itoe djoega; sedang indoeknja itoe menjelinap hilang masoek hoetan”.

Sebuah kutipan dari majalah Pandji Poestaka edisi 17 Juni 1932.

Seperti telah disebutkan, catatan di atas hanyalah satu dari beberapa catatan resmi tentang Orang
Pendek. Catatan lain yang terkenal adalah apa yang ada dalam buku “Nature Conservatism and Cultural
Preservation in Convergence: Orang Pendek and Papuan in Colonial Indonesia” karangan Prof. Robert
Cribb, seorang peneliti berkebangsaan Australia. Dalam buku itu, dijelaskan bahwa Orang Pendek telah
diteliti selama puluhan tahun oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa dan nampaknya mereka mempercayai
bahwa makhluk itu benar-benar ada atau pernah ada, tidak sekedar mitos belaka.

Kesimpulan

Melihat dari informasi-informasi yang telah dipaparkan di atas, nampaknya kelompok-kelompok
manusia kerdil benar-benar ada atau paling tidak pernah ada di belantara Indonesia. Kita harap
Pemerintah Indonesia dapat merumuskan dan menerapkan langkah-langkah konservasi pada daerah-
daerah yang diduga sebagai lokasi dari makhluk-makhluk tersebut. Tujuannya adalah mencegah
kepunahan (jika para makhluk itu masih ada) yang diakibatkan oleh petualang-petualang liar yang tidak
mempedulikan tentang keanekaragaman hayati melainkan hanya uang saja. Terlebih dengan viralnya
video Suku Mante di YouTube yang tak pelak akan mengundang perhatian besar dari berbagai pihak di
dalam dan dari luar negeri.

Credit: Animal Planet, The Sun, OkeZone, Wikia

Leave a Reply